Kamis, 13 Oktober 2016

Apa Imbasnya ke Saham Perbankan Setelah DP Rumah Turun?

Bank Indonesia (BI) akhir-akhir ini sedang melakukan berbagai kebijakan guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dimulai dari penurunan BI rate, lalu perubahan ke 7-DRR rate, kemudian pelonggaran LTV dan sekarang adalah menaikkan batas bawah LFR ke 80%.

Bank Indonesia (BI) menebitkan aturan yang merubah batas bawah rasio pendanaan bank terhadap penyaluran kredit (Loan to Funding Ratio/LFR) dari semula 78 % naik menjadi 80%.

Bank Indonesia, sudah mengumumkan rencana kenaikan batas bawah LFR menjadi 80% sejak akhir Mei 2016. Aturan LFR ini berlaku sejak 24 Agustus 2016.

Sebelum saya ulas lebih lanjut, sebenarnya apa itu LFR?

Menurut Bank Indonesia, LFR atau Loan Funding Ratio adalah rasio kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (DPK).

Formulasi LFR sendiri adalah kredit dibagi pendanaan. Pendanaan terdiri dari dana pihak ketiga (DPK) ditambah surat berharga yang diterbitkan bank.

Apa alasan BI menaikan batas bawah LFR?

Dari peningkatan tersebut, BI ingin mengukur seberapa banyak pinjaman yang diberikan oleh bank jika dibandingkan dengan dana pihak ketiga yang masuk pada bank. Peningkatan ini dilakukan untuk mendongkrak pertumbuhan kredit perbankan.

Lalu apa dampaknya terhadap perbankan?

Kebijakan Bank Indonesia yang merubah batas bawah loan to funding ratio (LFR) dari 78% menjadi 80%, bisa mendongkrak kinerja perbankan. Dengan pemberlakukan batas bawah LFR dari 78% menjadi 80% berpotensi membantu pertumbuhan kredit.

Sebab, dengan penurunan batas bawah LFR, maka disinsentif dalam bentuk bunga akan lebih rendah untuk pos giro wajib minimum (GWM). Hal ini karena bank akan distimulasikan untuk menaikkan LFR.

Jika realisasi kebijakan mengenai NPL juga berjalan baik, akan membuat bank menambah volume pembiayaan kredit termasuk Kredit Perumahan Rakyat. Pertumbuhan kredit inilah yang akan membuat pendapatan bunga bank mengalami peningkatan.

Bagaimana dengan harga saham perbankan?

Kinerja suatu perusahaan dikatakan baik jika pendapatan yang dihasilkan juga mengalami peningkatan. Hal ini juga berlaku bagi bank. Nah kalo kinerja banknya baik, akan ada banyak pihak yang tertarik untuk menanamkan modalnya dalam bank tersebut.

Jika aliran dana yang masuk dalam bentuk modal bertambah, harga saham ini juga akan mengalami peningkatan.

Sekarang kita tinggal wait and see bagaimana kebijakan ini berjalan ke depannya. Jika benar, sebagai trader tentu ini menjadi sentiment positif karena bisa mendorong penguatan harga saham.

Secara teknikal sektor bank berpotensi untuk melanjutkan kenaikannya.

Sumber: finance.detik.com
Tidak ada komentar: